ENSIKLOPEDIA DIGITAL · MEMORIA WONOGIRI
Wonogiripedia
Jendela menuju kekayaan sejarah, tokoh, tempat, budaya, kuliner, dan alam Kabupaten Wonogiri — dari masa Pangeran Sambernyawa hingga warisan modern.
Sejarah
Menampilkan 12 dari 29 entryGoa Putri Kencono Pracimantoro: Petilasan Putri Kencana Wungu Majapahit
Goa Putri Kencono di Pracimantoro dipercaya sebagai petilasan Putri Kencana Wungu, salah satu tokoh Kerajaan Majapahit. Goa karst sepanjang 121 meter ini ditemukan tahun 1991 dan memiliki tujuh ruang yang masing-masing punya fungsi semadi, perpustakaan, dan sarasehan kerajaan.
Perjanjian Salatiga 17 Maret 1757
Perjanjian Salatiga mengakhiri 16 tahun pertempuran Raden Mas Said dengan VOC. Ia diangkat sebagai Adipati Miji bergelar KGPAA Mangkunegoro I dan menjadi pendiri Praja Mangkunegaran.
Punggowo Baku Kawandoso Joyo: 40 Perwira Setia Pangeran Sambernyawa
Punggowo Baku Kawandoso Joyo adalah 40 perwira inti yang menjadi tulang punggung perjuangan Pangeran Sambernyawa di Nglaroh. Mereka direkrut dari pasukan inti yang setia, dipimpin oleh Kyai Wiradiwangsa sebagai Patih.
Masa Kolonial Belanda di Wonogiri
Pada masa kolonial Belanda, Wonogiri menjadi medan perjuangan Raden Mas Said melawan VOC. Setelah Perjanjian Salatiga 1757, Wonogiri menjadi bagian dari wilayah Mangkunegaran di bawah pengawasan Belanda.
Pembagian 5 Wilayah Strategis Pangeran Sambernyawa di Wonogiri
Setelah pemerintahan terbentuk, Pangeran Sambernyawa membagi wilayah Wonogiri menjadi lima daerah strategis: Nglaroh, Sembuyan, Wiroko, Keduwang, dan Honggobayan. Tiap wilayah punya karakter masyarakat berbeda yang dimanfaatkan sebagai strategi kepemimpinan.
Sendang Siwani Singodutan: Mata Air Kemenangan Pangeran Sambernyawa
Sendang Siwani di Desa Singodutan, Selogiri, adalah petilasan Pangeran Sambernyawa yang diyakini sebagai sumber kekuatan saat bergerilya melawan VOC. Air sendang ini dipercaya memulihkan semangat prajurit yang lelah dan kalah.
Tugu Pusaka Selogiri: Penjaga Kyai Totok dan Nyai Jaladara
Tugu Pusaka di depan Kantor Kecamatan Selogiri menyimpan dua pusaka Kabupaten Wonogiri: Tombak Kyai Totok dan Keris Nyai Jaladara. Pusaka ini dijamasi setiap bulan Suro di Waduk Gajah Mungkur sebagai ritual tahunan.
Sembuyan: Tanah "Kutuk Kalung Kendho" di Wonogiri Selatan
Sembuyan adalah nama lama wilayah Wonogiri selatan yang kini menjadi Kecamatan Baturetno dan Wuryantoro. Disebut "Kutuk Kalung Kendho" oleh Pangeran Sambernyawa karena karakter rakyatnya yang penurut dan patuh pada pemimpin.
Kawedanan Gunung Wonogiri 1847: R.Ng. Joyosudarso, Wedono Pertama
Pada tahun 1847, wilayah Wonogiri ditetapkan sebagai Kawedanan (onderregent) di bawah Praja Mangkunegaran. R.Ng. Joyosudarso menjadi Wedono Gunung Wonogiri pertama dan menjadi titik awal struktur pemerintahan modern di Wonogiri.
Pemecahan Kawedanan Gunung 1875: Lahirnya Kawedanan Baturetno
Atas permohonan R.Ng. Joyosudarso, pada tahun 1875 Kawedanan Gunung Wonogiri dipecah menjadi dua: Kawedanan Gunung Wonogiri (Keduang, Honggobayan, Nglaroh) dan Kawedanan Gunung Baturetno (wilayah selatan). Inilah cikal bakal otonomi wilayah selatan Wonogiri.
Pembangunan Jalan Wonogiri–Pracimantoro 1913: Era Modernisasi Kolonial
Pada tahun 1913, Praja Mangkunegaran bekerja sama dengan Pemerintah Hindia Belanda menyelesaikan jalan Wonogiri–Wuryantoro–Eromoko–Pracimantoro yang bisa dilalui kereta kuda. 11 jembatan modern dibangun bersamaan untuk menghubungkan wilayah barat-daya Wonogiri.
Stasiun Wonogiri 1922: Jejak Kereta Api Era Belanda
Stasiun Wonogiri resmi beroperasi 1 April 1922, menyambungkan kota Wonogiri ke Solo lewat jalur kereta NIS. Ide awal jalur kereta Jawa berasal dari Kolonel Van Der Wijk tahun 1840—Wonogiri menjadi bagian rencana 12 jalur kereta di Jawa kolonial.