Sebelum nama-nama modern seperti Baturetno dan Wuryantoro digunakan, wilayah Wonogiri bagian selatan dikenal dengan nama "Sembuyan". Wilayah ini termasuk dalam lima daerah strategis yang dipetakan Pangeran Sambernyawa dalam strategi kepemimpinannya sejak abad ke-18.
Karakter "Kutuk Kalung Kendho"
Pangeran Sambernyawa memberi julukan unik untuk masyarakat Sembuyan: "Kutuk Kalung Kendho". Secara harfiah:
- Kutuk = sejenis ikan kecil (juga simbol kepatuhan)
- Kalung Kendho = kalung yang longgar
Bila digabungkan, frasa ini menggambarkan sifat masyarakat Sembuyan yang penurut, mudah diarahkan, dan memiliki kecenderungan paternalistik—patuh pada pimpinan tanpa pemberontakan berarti, seperti ikan kecil yang berenang searah kemana arusnya mengarah.
Mengapa Karakter Ini Strategis
Bagi Sambernyawa, karakter penurut bukan kelemahan—justru kekuatan strategis. Sembuyan dijadikan:
- Basis Logistik — pengumpulan padi, gaplek, dan hasil bumi lain dapat dilakukan dengan koordinasi rapi tanpa konflik internal.
- Wilayah Aman — bila pasukan butuh tempat istirahat tanpa gangguan internal, Sembuyan jadi pilihan utama.
- Suplai Pasukan Pendukung — meski tidak agresif seperti rakyat Wiroko atau Nglaroh, rakyat Sembuyan menjadi tulang punggung pasukan pendukung yang stabil.
Transformasi Modern
Pada era kolonial, wilayah Sembuyan menjadi bagian dari Kawedanan Gunung Baturetno yang dibentuk pada 1875 atas permohonan Wedono Gunung pertama, R.Ng. Joyosudarso. Setelah perubahan status menjadi Kabupaten Wonogiri pada 1917, Sembuyan terpecah menjadi Kawedanan Wuryantoro dan Kawedanan Baturetno.
Pada 1923, Kawedanan Baturetno bahkan sempat dihapus untuk penghematan, namun kemudian diaktifkan kembali. Hingga kini, dua wilayah ini menjadi Kecamatan Baturetno dan Wuryantoro—dua sentral wilayah selatan Wonogiri.
Babak Modern: Pengorbanan untuk Bedhol Desa
Karakter "Kutuk Kalung Kendho" agaknya terbukti kembali pada era modern. Saat pembangunan Waduk Gajah Mungkur 1976–1981, sebagian besar dari 51 desa yang harus tenggelam berada di wilayah Sembuyan—termasuk banyak desa di Baturetno dan Wuryantoro. Meski berat, mayoritas warga akhirnya menerima program transmigrasi bedhol desa dengan relatif tertib dibanding daerah lain.
Pada 30 April 1978, jalur kereta api Wonogiri–Baturetno yang telah aktif sejak 1923 resmi dinonaktifkan—efek langsung dari penggenangan WGM yang juga menenggelamkan jalur rel.
Sembuyan kini hanya tinggal dalam toponimi dan tradisi lisan, tetapi karakter rakyatnya yang patuh-bermartabat masih terasa hingga kini di Baturetno dan Wuryantoro.