Tanggal 19 Mei 1741 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Wonogiri. Tanggal ini bukan sembarang dipilih — ia merujuk pada momen historis ketika Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) mendirikan pemerintahan sederhana di Dusun Nglaroh, Kecamatan Selogiri.
Setelah meninggalkan Keraton Kartasura karena perlakuan tidak adil, Raden Mas Said bersama para pengikut setianya mengembara mencari tempat untuk membangun basis perjuangan. Mereka tiba di Nglaroh dan diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat setempat di bawah pimpinan Kyai Wiradiwangsa.
Watu Gilang — Saksi Bisu Strategi Perjuangan
Di Nglaroh terdapat Batu Watu Gilang, sebuah batu besar yang digunakan Raden Mas Said dan para pengikutnya untuk merencanakan strategi perlawanan terhadap VOC. Watu Gilang kini menjadi situs cagar budaya dan simbol perjuangan Wonogiri.
Tri Darma Pangeran Sambernyawa
Di Nglaroh juga lahir prinsip kepemimpinan yang dikenal sebagai Tri Darma:
- Mulat Sarira Hangrasa Wani — Berani mengoreksi diri sendiri
- Rumangsa Melu Handarbeni — Merasa ikut memiliki
- Rumangsa Wajib Melu Hangrungkebi — Merasa wajib ikut membela
Nilai-nilai Tri Darma ini hingga kini masih dijadikan pedoman bagi penyelenggara pemerintahan dan masyarakat Wonogiri.
Setiap tanggal 19 Mei, masyarakat Wonogiri memperingati Hari Jadi dengan berbagai kegiatan seperti kirab budaya, ziarah ke Watu Gilang, dan pagelaran kesenian tradisional.