Sejarah

Wonogiri di Era Orde Baru

Tahun 1974-1984 menjadi era transformatif Wonogiri dengan pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang menyebabkan bedhol desa 12.525 KK dan transmigrasi besar-besaran ke Sumatera.

Wonogiri di Era Orde Baru

Era Orde Baru, khususnya periode 1974-1984, menjadi salah satu fase paling transformatif dalam sejarah modern Wonogiri. Pada masa ini, wilayah Wonogiri menjadi fokus pembangunan nasional, terutama melalui proyek besar Waduk Serbaguna Gajah Mungkur (WGM).

Latar Belakang

Sebelum pembangunan WGM, kondisi ekonomi masyarakat Wonogiri sangat memprihatinkan. Geografi yang didominasi pegunungan kapur (karst) yang gersang membuat pertanian sulit berkembang. Banjir Bengawan Solo dan kekeringan musim kemarau memperparah kemiskinan, kesehatan masyarakat, dan akses pendidikan.

Proyek Prioritas Pelita II

Pemerintah Orde Baru, dengan dukungan dana pinjaman dari Pemerintah Jepang, memasukkan pembangunan WGM ke dalam program Pembangunan Lima Tahun (Pelita) II (1974-1979). Tujuannya: mengendalikan banjir Bengawan Solo, irigasi pertanian, pembangkit listrik (PLTA), perikanan, dan pariwisata.

Bedhol Desa: Pengorbanan Massal

Untuk merealisasikan proyek, pemerintah harus merelokasi 12.525 Kepala Keluarga atau sekitar 68.750 jiwa dari 51 desa di tujuh kecamatan. Inilah momen lahirnya istilah "bedhol desa" — mencabut akar desa untuk dipindahkan ke wilayah transmigrasi.

Daerah tujuan transmigrasi meliputi:

  • Sumatera Barat: Sitiung
  • Jambi: Jujuhan, Rimbo Bujang, Alai Ilir, Pemenang
  • Bengkulu: Air Lais, Sebelat, Ketahun, Ipuh
  • Sumatera Selatan: Panggang, Baturaja

Dampak Jangka Panjang

Setelah WGM beroperasi tahun 1981 (diresmikan Presiden Soeharto pada 17 November 1981), Wonogiri mengalami diversifikasi ekonomi. Selain pertanian, masyarakat menemukan sumber penghidupan baru di sektor perikanan air tawar (di waduk) dan pariwisata. Monumen Bedol Desa di Pokoh Kidul menjadi pengingat abadi atas pengorbanan masyarakat Wonogiri demi pembangunan nasional.