Monumen Watu Gilang adalah salah satu prasasti terpenting dalam sejarah Kabupaten Wonogiri. Letaknya di pekarangan warga atas nama Bapak Sodimejo, Dusun Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri. Inilah tempat dimulainya pemerintahan sederhana Raden Mas Said yang kemudian menjadi cikal bakal Kabupaten Wonogiri.
Bentuk Fisik
"Watu Gilang" secara harfiah berarti batu yang halus. Prasasti ini berupa batu pipih lonjong setinggi sekitar 45 cm. Di permukaannya terdapat lima lekukan yang—menurut tradisi lisan—digunakan Raden Mas Said sebagai simulasi strategi perang gerilya dengan bantuan batu-batu kecil sebagai bidak. Di sebelah barat batu terdapat kuburan kuda kesayangan sang pangeran.
Fungsi Spiritual dan Strategis
Selain sebagai meja strategi, Watu Gilang juga digunakan Raden Mas Said sebagai tempat duduk bersila untuk semadi—memohon petunjuk Sang Khalik atas kesulitan yang dihadapi dalam perjuangan melawan VOC. Konon, banyak keputusan penting Pangeran Sambernyawa lahir dari semadi di atas batu ini.
Makna Nama "Nglaroh"
Nama Nglaroh sendiri berasal dari kata "Ngelar" (memperluas) dan "Roh" (jiwa/wilayah). Bila digabungkan, Nglaroh berarti "memperluas wilayah"—sebuah penanda makna historis dari titik awal perluasan wilayah perjuangan Raden Mas Said.
Tradisi 1 Suro
Setiap tanggal 1 Muharram (1 Suro penanggalan Jawa), Prasasti Nglaroh menjadi tempat utama perayaan di Wonogiri. Warga setempat dan kerabat Keraton Surakarta sering datang untuk melakukan ritual tahunan—kadang disertai pertunjukan wayang kulit. Tempat ini telah direnovasi berkat dukungan warga dan dana Pemkab Wonogiri sebagai upaya sadar wisata.
Watu Gilang menjadi bukti otentik bahwa Wonogiri lahir dari semangat perjuangan rakyat melawan ketidakadilan—bukan sekadar pemberian penguasa atau warisan administratif.