Sejarah

Stasiun Wonogiri 1922: Jejak Kereta Api Era Belanda

Stasiun Wonogiri resmi beroperasi 1 April 1922, menyambungkan kota Wonogiri ke Solo lewat jalur kereta NIS. Ide awal jalur kereta Jawa berasal dari Kolonel Van Der Wijk tahun 1840—Wonogiri menjadi bagian rencana 12 jalur kereta di Jawa kolonial.

Sejarah Stasiun Wonogiri tidak bisa dilepaskan dari ambisi besar pembangunan jalur kereta api di Jawa pada abad ke-19. Awalnya, ide jalur KA di Jawa diusulkan oleh Kolonel Jhr Van Der Wijk pada 15 Agustus 1840. Ide ini diterima pemerintah Belanda dengan Surat Keputusan No. 270 tertanggal 28 Mei 1842.

Rencana 12 Jalur Kereta di Wonogiri

Berdasarkan skripsi "Sejarah Keberadaan Jalur Kereta Api di Kabupaten Wonogiri Tahun 1922–1976" oleh Andi Pramono (2011), di Wonogiri dulunya direncanakan 12 jalur KA—rencana yang sangat ambisius mengingat sebagian besar wilayahnya pegunungan. Sayangnya, hanya sebagian kecil yang berhasil dibangun karena kendala dana, medan berat, dan kemudian terjadinya Depresi Besar 1930-an.

Jalur Solo – Wonogiri Diresmikan 1 April 1922

Jalur kereta api dari Stasiun Purwosari (Solo) menuju Stasiun Wonogiri resmi diperpanjang dan diresmikan pada 1 April 1922. Operatornya adalah Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api kolonial swasta yang juga membangun jalur Semarang–Tanggung (jalur KA pertama Hindia Belanda 1867).

Stasiun Wonogiri saat itu menjadi stasiun ujung jalur tersebut. Bangunannya bergaya kolonial dengan ciri khas atap perisai tinggi, kanopi besi, dan tata ruang loket-peron yang efisien. Lokasinya di Kelurahan Giripurwo, persis di depan area yang nantinya menjadi Pasar Kota Wonogiri.

Menara Air Kuno: Bahan Bakar Kereta Uap

Salah satu peninggalan paling unik di sekitar Stasiun Wonogiri adalah menara air kuno yang berdiri di depan Masjid Al Ikhlas. Menara ini berfungsi sebagai tandon air untuk lokomotif uap di masa lalu. Lokomotif kereta uap saat itu butuh dua bahan bakar utama: kayu dan air—dan menara ini menyediakan air dengan tekanan cukup untuk mengisi tangki lokomotif yang berhenti di stasiun.

Menara air ini masih kokoh berdiri hingga abad ke-21, meski besinya sudah berkarat. Menjadi situs wajib dalam acara Wonogiri Walking Tour—paket wisata sejarah yang mulai populer sejak 2025.

Rumah Dinas Kepala Stasiun

Di sebelah selatan stasiun terdapat bekas rumah dinas Kepala Stasiun Wonogiri, dulu pemandangan dari rumah ini bisa langsung melihat rel kereta, menara air, dan bangunan stasiun. Saat ini lahan rumah tersebut dan permukiman di bekas jalur Wonogiri–Baturetno masih milik PT KAI—warga sekitar tinggal dengan sistem sewa.

Akhir Era Jalur Wonogiri – Baturetno

Jalur kereta dari Stasiun Wonogiri kemudian diperpanjang ke Baturetno (selesai 1 Oktober 1923). Tetapi pada 1 Mei 1978, jalur Wonogiri–Baturetno resmi dinonaktifkan karena terkena dampak pembangunan Waduk Gajah Mungkur—wilayah Baturetno akan tergenang.

Stasiun Wonogiri Hari Ini

Saat ini, satu-satunya kereta api yang melayani angkutan penumpang di Stasiun Wonogiri adalah Railbus Batara Kresna, yang melayani rute Purwosari–Wonogiri pulang-pergi dua kali sehari. Jarak 37 km ditempuh ±1 jam 45 menit dengan kecepatan rata-rata 30 km/jam. Stasiun ini berstatus stasiun akhir, dalam operasional DAOP VI Yogyakarta PT KAI.

Stasiun Wonogiri menjadi pengingat hidup bahwa wilayah pegunungan ini pernah terintegrasi penuh ke jaringan modern Jawa kolonial—dan masih bertahan hingga kini meski dalam skala yang jauh lebih kecil.