Sejarah

Tugu Pusaka Selogiri: Penjaga Kyai Totok dan Nyai Jaladara

Tugu Pusaka di depan Kantor Kecamatan Selogiri menyimpan dua pusaka Kabupaten Wonogiri: Tombak Kyai Totok dan Keris Nyai Jaladara. Pusaka ini dijamasi setiap bulan Suro di Waduk Gajah Mungkur sebagai ritual tahunan.

Tugu Pusaka berada di pinggir jalan raya Solo–Pacitan, tepatnya di depan Kantor Kecamatan Selogiri. Berbeda dengan Prasasti Watu Gilang yang berbentuk batu pipih, Tugu Pusaka berupa bangunan menyerupai candi—terbuat dari campuran batu berwarna hitam legam klasik dengan ornamen ukir tradisional Jawa.

Fungsi Khusus: Penyimpanan Pusaka

Tugu Pusaka bukan hanya monumen biasa. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan dua pusaka resmi Kabupaten Wonogiri:

  1. Kyai Totok — sebuah tombak (lar) yang dipercaya berasal dari era perjuangan Pangeran Sambernyawa.
  2. Nyai Jaladara — sebuah keris yang juga merupakan pusaka warisan abad ke-18.

Pendiri Tugu

Yang menarik, Tugu Pusaka ini bukan dibangun oleh Pemkab Wonogiri, melainkan oleh Paduka KGPAA Mangkunegoro—penguasa Praja Mangkunegaran yang merupakan keturunan langsung Pangeran Sambernyawa. Ini menunjukkan bahwa secara spiritual, Wonogiri tetap memiliki ikatan erat dengan Praja Mangkunegaran meski secara administratif telah keluar dari sistem swapraja pada 1946.

Ritual Jamasan Suro

Setiap awal bulan Suro (Muharram) dalam penanggalan Jawa, kedua pusaka tersebut dijamasi (disucikan/dimandikan) di Waduk Gajah Mungkur. Jamasan dilakukan dengan air dari beberapa sumber suci, antara lain dari Sendang Siwani dan sumber air di Nglaroh.

Prosesi ini disaksikan oleh:

  • Pejabat Pemkab Wonogiri (Bupati dan jajarannya)
  • Utusan Pura Mangkunegaran
  • Tokoh adat dan masyarakat Selogiri
  • Penonton dari berbagai daerah

Makna Pusaka untuk Identitas Wonogiri

Tombak Kyai Totok dan Keris Nyai Jaladara dipercaya memiliki tuah menjaga keseimbangan dan menolak balak (mara bahaya) bagi Kabupaten Wonogiri. Selain di Tugu Pusaka, ada juga Pusaka Kyai Bedhudhak yang disimpan di Pendopo Wonogiri dan dikirab keliling kota bila terjadi pagebluk (wabah penyakit).

Kombinasi ketiga pusaka ini—Kyai Totok, Nyai Jaladara, dan Kyai Bedhudhak—menjadi simbol bahwa identitas Wonogiri tidak hanya soal administrasi modern, tetapi juga warisan spiritual yang terus dijaga dari generasi ke generasi.