ENSIKLOPEDIA DIGITAL · MEMORIA WONOGIRI
Wonogiripedia
Jendela menuju kekayaan sejarah, tokoh, tempat, budaya, kuliner, dan alam Kabupaten Wonogiri — dari masa Pangeran Sambernyawa hingga warisan modern.
Semua Entry
Menampilkan 12 dari 102 entryPembangunan Jalan Wonogiri–Pracimantoro 1913: Era Modernisasi Kolonial
Pada tahun 1913, Praja Mangkunegaran bekerja sama dengan Pemerintah Hindia Belanda menyelesaikan jalan Wonogiri–Wuryantoro–Eromoko–Pracimantoro yang bisa dilalui kereta kuda. 11 jembatan modern dibangun bersamaan untuk menghubungkan wilayah barat-daya Wonogiri.
Stasiun Wonogiri 1922: Jejak Kereta Api Era Belanda
Stasiun Wonogiri resmi beroperasi 1 April 1922, menyambungkan kota Wonogiri ke Solo lewat jalur kereta NIS. Ide awal jalur kereta Jawa berasal dari Kolonel Van Der Wijk tahun 1840—Wonogiri menjadi bagian rencana 12 jalur kereta di Jawa kolonial.
Jalur Kereta Api Wonogiri–Baturetno 1923–1978: Tinggal Kenangan
Pada 1 Oktober 1923, jalur kereta diperpanjang dari Wonogiri ke Baturetno, mengangkut hasil kayu jati Hutan Donoloyo dan tebu dari pabrik gula. Setelah 55 tahun beroperasi, jalur ini resmi mati 1 Mei 1978—korban langsung pembangunan Waduk Gajah Mungkur.
Hutan Donoloyo Slogohimo: Pemasok Kayu Jati untuk Keraton Surakarta
Hutan Donoloyo di Kecamatan Slogohimo terkenal sejak abad ke-18 sebagai penghasil kayu jati berkualitas terbaik. Kayu dari hutan ini digunakan untuk membangun Keraton Surakarta dan menjadi salah satu komoditas utama yang diangkut kereta api jalur Wonogiri–Baturetno.
Gerakan Anti-Swapraja Wonogiri 1945–1946: Akhir Era Mangkunegaran
Pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Wonogiri mengalami dualisme pemerintahan—masih dalam monarki Mangkunegaran tetapi rakyat ingin masuk Republik. Gerakan Anti-Swapraja akhirnya berhasil membawa Wonogiri keluar dari sistem kerajaan dan menjadi kabupaten Republik Indonesia.
Pantai Banyutowo — Pantai Air Tawar yang Unik
Pantai Banyutowo di Desa Gudangharjo, Paranggupito, terkenal karena fenomena unik: air tawar dari sungai bawah tanah karst menggrojog langsung dari tebing karang ke laut. Nama "Banyutowo" sendiri berarti "air tawar" dalam bahasa Jawa.
Watu Cenik — Panorama Waduk Gajah Mungkur dari Ketinggian
Watu Cenik di Desa Sendang, Wonogiri Kota, adalah bukit batu setinggi 320 mdpl yang menyuguhkan panorama Waduk Gajah Mungkur dan Pegunungan Seribu. Dikelola BUMDes Sendang sejak 2017, hanya 6 km dari Alun-Alun Giri Krida Bakti.
Alun-Alun Giri Krida Bakti — Jantung Kota Wonogiri
Alun-Alun Giri Krida Bakti adalah pusat aktivitas warga Wonogiri Kota, berfungsi sebagai ruang publik, lokasi acara resmi, dan area olahraga keluarga. Nama "Giri Krida Bakti" mengandung makna: gunung (giri) sebagai tempat kerja (krida) dan pengabdian (bakti).
Bumi Perkemahan Setren — Camping di Lereng Lawu dengan Petilasan Sambernyawa
Bumi Perkemahan Setren di Slogohimo adalah area camping di kawasan Hutan Girimanik, lereng selatan Gunung Lawu. Lokasinya strategis sebagai titik awal menuju air terjun, sendang, pertapaan Pangeran Sambernyawa, dan jalur pendakian Puncak Semar.
Soko Langit — Infinity Pool di Lereng Gunung Lawu
Soko Langit di Dusun Nglarangan, Desa Conto, Bulukerto, adalah destinasi wisata modern dengan infinity pool di ketinggian 1.000 mdpl menghadap Gunung Lawu. Dilengkapi camping ground, replika Rumah Hobbit, flying fox, dan taman buah.
Pendopo Kabupaten Wonogiri — Penyimpan Pusaka Kyai Bedhudhak
Pendopo Kabupaten Wonogiri di pusat kota adalah bangunan heritage tempat berlangsungnya kegiatan resmi Pemkab. Di dalamnya disimpan Pusaka Kyai Bedhudhak yang dikirab keliling kota saat terjadi pagebluk (wabah)—warisan Pangeran Sambernyawa.
Rasulan Desa Keloran — Tradisi Bersih Desa Selogiri
Rasulan adalah tradisi bersih desa di Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, yang berlangsung turun-temurun sejak masa pra-Islam. Mengkombinasikan gugur gunung (gotong royong), sesajen, pertunjukan wayang kulit, reog, dan jathilan—Rasulan menjadi simbol Tri Hita Karana versi Jawa.