Rasulan (juga sering disebut "Bersih Desa") adalah salah satu tradisi paling tua di Wonogiri yang masih dilestarikan oleh masyarakat muslim Desa Keloran, Kecamatan Selogiri. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun—dari zaman pra-Islam (Hindu-Buddha Majapahit) hingga era Islam modern, dengan penyesuaian-penyesuaian sesuai akidah masing-masing zaman.
Asal-Usul Nama "Rasulan"
Nama "Rasulan" diambil dari kata "Rasul"—merujuk pada Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan proses akulturasi: tradisi pra-Islam yang awalnya bertema syukur kepada dewa-dewi alam, kemudian disesuaikan dengan ajaran Islam dengan tetap mempertahankan struktur ritualnya. Di sini, peran modin (juru doa Islam) sangat penting sebagai "penerjemah" antara ajaran lama dan kepercayaan baru.
Di beberapa daerah Wonogiri, Rasulan juga disebut "Bersih Dusun", "Sedekah Bumi", atau dialek lokal lain. Esensinya sama: ungkapan syukur atas hasil panen dan permohonan keselamatan desa.
Waktu Pelaksanaan
Rasulan umumnya digelar sekali setahun pasca-panen padi—biasanya pada bulan-bulan tertentu di kalender Jawa (Sura, Sapar, atau Ruwah). Tanggal pasti ditentukan oleh tokoh adat dan kepala desa, dengan mempertimbangkan hari pasaran Jawa yang dianggap baik (Kliwon, Pahing, dll).
Rangkaian Acara
Rasulan Desa Keloran mencakup beberapa tahap:
- Gugur Gunung (Gotong Royong) — Kegiatan utama yang menandai dimulainya rangkaian Rasulan. Seluruh warga turun ke desa untuk:
- Membersihkan jalan-jalan kampung
- Membersihkan sungai dan saluran irigasi
- Membersihkan tempat-tempat keramat (sumur, batas desa, pohon besar)
- Memperbaiki fasilitas umum yang rusak
- Pemberian Sesajen — Sesajen tradisional diletakkan di lokasi-lokasi tertentu yang dianggap penting secara spiritual:
- Sumur — sebagai penghormatan pada sumber air
- Sungai — terima kasih atas aliran air yang menghidupi
- Batas desa — permohonan perlindungan dari hal-hal buruk yang datang dari luar
- Pohon besar — penghormatan pada penghuni gaib (versi modern: simbol pelestarian alam)
- Doa Bersama — Dipimpin modin desa, doa dilakukan secara Islam dengan nuansa Jawa. Berbagai hidangan tradisional (tumpeng, nasi gurih, ingkung ayam) didoakan untuk diberkati.
- Kenduri / Bancaan — Pembagian makanan kepada seluruh warga desa. Tidak ada yang dibedakan—semua mendapat porsi yang sama, menegaskan prinsip kesetaraan.
- Pentas Seni Tradisional — Puncak acara Rasulan diisi pertunjukan:
- Wayang Kulit — sering semalam suntuk dengan dalang kondang. Lakon yang dipilih biasanya bertema kesuburan, kebersihan, dan kepemimpinan (contoh: "Bharatayudha", "Dewa Ruci").
- Reog — kesenian khas yang menambah meriah suasana.
- Jathilan — tarian rakyat dengan kuda lumping.
- Tayub — di beberapa dusun, tayub menjadi pelengkap meriah.
- Perlombaan Olahraga Antar Dusun — sebagai momentum silaturahmi dan kompetisi sehat antar wilayah dalam satu desa.
Nilai Tri Hita Karana Versi Jawa
Rasulan Desa Keloran selaras dengan prinsip universal Tri Hita Karana—tiga sumber kebahagiaan:
- Manusia–Tuhan (Parahyangan) — doa bersama, sesajen sebagai bentuk pengakuan akan keberadaan Yang Maha Kuasa.
- Manusia–Manusia (Pawongan) — gugur gunung, kenduri, perlombaan antar dusun memperkuat solidaritas.
- Manusia–Alam (Palemahan) — membersihkan lingkungan, menjaga sumur dan sungai, memberi sesajen di tempat keramat sebagai bentuk penghormatan pada alam.
Meski istilah Tri Hita Karana lebih dikenal di tradisi Bali-Hindu, esensinya hidup pula di Rasulan Desa Keloran—sebuah bukti bahwa kearifan ekologis-spiritual lintas budaya Indonesia memiliki akar yang serupa.
Tradisi yang Mengakar di Wonogiri Luas
Rasulan tidak hanya ada di Keloran. Tradisi serupa dengan nama lokal yang berbeda hidup di berbagai desa di Wonogiri:
- Bersih Dusun di beberapa dusun di Selogiri, Wonogiri, Wuryantoro
- Sedekah Bumi di Slogohimo, Purwantoro, Jatisrono
- Kondangan Bakdan menjelang Lebaran di Dusun Purno Lor, Wuryantoro
- Susuk Wangan di Setren, Slogohimo (dengan fokus pada sumber air)
Tradisi Rasulan terus relevan hingga kini karena fungsinya yang multidimensional—bukan hanya ritual masa lalu, tetapi juga institusi sosial yang menjaga keseimbangan komunitas, ekologi, dan spiritualitas warga Wonogiri.