Tari Kethek Ogleng adalah ikon seni tradisi Kabupaten Wonogiri yang ditampilkan dalam berbagai festival budaya dan upacara adat. Tarian ini ditampilkan dengan gerakan lincah, jenaka, dan akrobatik yang menirukan tingkah polah kethek (kera).
Asal-Usul Nama
- Kethek: bahasa Jawa untuk kera/monyet
- Ogleng: nama lain dari sarum demung (saron besar) — instrumen gamelan
Penari dilakukan diiringi Gendhing Gancaran Pancer, salah satu repertoar gamelan Jawa yang bunyinya terdengar seperti "ogleng-ogleng" — dari sinilah nama tarian berasal.
Sejarah & Pencipta
Kethek Ogleng awalnya berasal dari Sampung, Ponorogo, lalu berkembang ke Pacitan, dan masuk ke Wonogiri pada tahun 1967. Di Wonogiri, tarian ini diciptakan ulang dengan kekhasan oleh Darjino dan kemudian disempurnakan oleh Suwiryo. Setelah Suwiryo wafat, pelestarian dilanjutkan oleh Sukijo.
Latar Cerita Panji Asmorobangun
Pertunjukan Kethek Ogleng membawakan kisah Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji — salah satu siklus cerita Panji yang populer di Jawa, di mana seorang pangeran menyamar menjadi kera untuk mencari kekasihnya.
Karakteristik Tarian
- Tidak baku — Penari bebas berimprovisasi
- Atraktif dan akrobatik — loncatan, gulingan, gestur kera yang lucu
- Interaktif — penari sering mengajak penonton menari atau bercanda
- Kostum menyerupai kera dengan warna mencolok
Warisan Budaya Takbenda
Pada tahun 2018, Tari Kethek Ogleng Wonogiri resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan nomor registrasi 201800728 dalam domain seni pertunjukan.
Pelestarian
Tarian ini masih dilestarikan di berbagai kecamatan Wonogiri: Nguntoronadi, Wonogiri, Ngadirojo, Slogohimo, Jatisrono, Sidoharjo, Kismantoro, dan Tirtomoyo. Festival Reog dan Kethek Ogleng untuk pelajar SD-SMP rutin diselenggarakan Pemkab Wonogiri sebagai upaya menjaga eksistensi seni tradisi di tengah generasi muda.