Salah satu tradisi paling spektakuler di Wonogiri adalah Kirab Budaya dan Jamasan Pusaka yang digelar Pemkab Wonogiri setiap bulan Suro (Muharram). Berbeda dengan jamasan pusaka di daerah lain Jawa, jamasan di Wonogiri memiliki ciri unik: iring-iringan dipimpin oleh tiga ekor gajah.
Tiga Pusaka Utama Wonogiri
Kabupaten Wonogiri memiliki 3 pusaka pokok yang dijaga sebagai simbol identitas dan warisan dari Pangeran Sambernyawa:
- Kyai Totok — Tombak (lar) yang digunakan Raden Mas Said saat memimpin perjuangan melawan VOC. Disimpan di Tugu Pusaka Selogiri, dibangun atas inisiatif KGPAA Mangkunegoro.
- Nyai Jaladara — Keris pusaka, juga warisan era perjuangan. Bersama Kyai Totok disimpan di Tugu Pusaka Selogiri.
- Kyai Bedhudhak — Pusaka khusus yang disimpan di Pendopo Kabupaten Wonogiri. Berfungsi sebagai penolak balak—dikirab keliling kota bila terjadi pagebluk (wabah).
Selain 3 pusaka utama, ada 4 pusaka tambahan yang ikut dijamasi—total 7 pusaka milik Pemkab Wonogiri, di mana 6 di antaranya adalah peninggalan langsung Keraton Mangkunegaran Surakarta.
Tiga Gajah Pengiring
Yang membuat jamasan Wonogiri begitu khas adalah kehadiran tiga ekor gajah yang berjalan di barisan paling depan iring-iringan, mendahului para pembawa pusaka:
- Kyai Sitanggang — gajah jantan bertubuh paling besar, berjalan di sisi ujung kanan iring-iringan.
- Nyai Handayani — gajah betina, pasangan Sitanggang, berjalan di sisi ujung kiri.
- Denok — gajah yang belum dewasa, anak Sitanggang dan Handayani, berjalan di antara kedua induknya.
Tiga gajah ini bukan sembarang gajah—mereka adalah satwa primadona di kawasan Waduk Gajah Mungkur, sekaligus penghormatan simbolis pada nama waduk itu sendiri (Gajah Mungkur).
Prosesi Lengkap
Ritual jamasan berlangsung selama dua hari dengan rangkaian:
- Pengambilan Pusaka — Dilakukan beberapa orang yang masih mempunyai hubungan darah dengan trah Mangkunegaran, menjadi tanda pengakuan keterhubungan spiritual.
- Tirakatan Malam — Doa bersama pada malam harinya di Pendopo Kabupaten Wonogiri.
- Arak-arakan Pagi: Selogiri → Pendopo — Pusaka dari Tugu Pusaka Selogiri diarak ke Kantor Bupati Wonogiri.
- Upacara Serah Terima — Di Pendopo Kabupaten Wonogiri, pusaka diserahkan secara seremonial. Termasuk pengeluaran Kyai Bedhudhak dari ruang penyimpanannya.
- Kirab Pendopo → Kodim — Iring-iringan menuju Kodim 0728 Wonogiri, diiringi berbagai kesenian: jathilan, reog, drum band dari sekolah-sekolah Wonogiri.
- Perjalanan ke Waduk Gajah Mungkur — Dari Kodim, peserta upacara naik kendaraan menuju Objek Wisata Sendang Asri WGM.
- Kirab Gajah di WGM — Inilah momen ikonik: tiga gajah memimpin iring-iringan dari Gedung Peluncuran Jetski menuju lokasi jamasan, dengan ratusan prajurit dan wanita berpakaian adat berjalan di belakangnya membawa pusaka.
- Jamasan Pusaka — Senjata-senjata pusaka diserahkan kepada abdi dalem Mangkunegaran. Pusaka dimandikan dengan air kembang setaman dan air dari beberapa sumber sakral (termasuk Sendang Siwani).
- Ritual Ruwatan — Belasan orang yang dianggap memiliki sukerto (aura negatif) diruwat (dibersihkan auranya). Prosesi diawali penyerahan tokoh wayang Bathara Kala dari Sekda Wonogiri kepada Ki Dalang pengruwat, dilanjutkan pagelaran wayang.
Macam Sukerto dalam Ruwatan
Ki Dalang menyebut berbagai jenis sukerto yang diruwat:
- Anak yang terlahir dengan aura jelek
- Orang yang terkena halangan hidup berturut-turut
- Pasangan suami-istri yang belum mendapat keturunan
- Orang yang sering mengalami sial
- Anak tunggal, anak kembar, atau urutan kelahiran tertentu yang dianggap "wingit"
"Gelar Wisata Budaya" Wonogiri
Sejak jamasan dikemas sebagai event tahunan dengan tagline "Gelar Wisata Budaya", prosesi ini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya unggulan Wonogiri. Ribuan wisatawan dari berbagai daerah—termasuk turis mancanegara—hadir menyaksikan ritual yang berpadu antara sakralitas dan tontonan.
Makna untuk Identitas Wonogiri
Jamasan Pusaka bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah penegasan identitas budaya Wonogiri yang akarnya berasal dari:
- Perjuangan Pangeran Sambernyawa (1741–1757)
- Warisan Praja Mangkunegaran (1757–1946)
- Era modern Republik Indonesia (1946–sekarang)
Tradisi ini terus dilestarikan sebagai pengingat bahwa identitas Wonogiri tidak bisa dipisahkan dari akar sejarah dan spiritualitas Jawa—pusaka adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan kabupaten.