Susuk Wangan Amerti Tirta—lengkapnya "Ritual Susuk Wangan Amerti Tirta"—adalah tradisi paling otentik yang masih hidup di Desa Setren, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri. Upacara ini erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari warga yang banyak berkutat dengan pertanian dan sumber air dari Hutan Girimanik di lereng selatan Gunung Lawu.
Arti Nama
Nama upacara berasal dari bahasa Jawa:
- Susuk = membersihkan
- Wangan = saluran air
- Amerti = menjaga/melestarikan
- Tirta = air
Bila digabungkan, "Susuk Wangan Amerti Tirta" berarti "membersihkan saluran air sebagai bentuk pelestarian sumber air"—sebuah konsep ekologi tradisional yang lahir jauh sebelum istilah konservasi air dikenal di dunia modern.
Waktu Pelaksanaan
Upacara digelar setiap Sabtu Kliwon di bulan Besar (Dzulhijah) menurut penanggalan Jawa—setahun sekali. Kepala Desa Setren berwenang menentukan waktu pasti pelaksanaan dalam rentang tersebut. Pemilihan hari Sabtu Kliwon bukan kebetulan: dalam tradisi Jawa, kombinasi hari pasaran ini dianggap "wingit" (sakral) dan tepat untuk ritual penting.
Prosesi Upacara
Upacara terdiri dari beberapa tahap berurutan:
- Gotong Royong Membersihkan Saluran Air — Pagi hari, warga (mayoritas petani) bergotong-royong membersihkan seluruh jaringan saluran irigasi yang berasal dari sumber Girimanik. Tidak ada yang membedakan status sosial—semua warga turun ke lapangan.
- Penyiapan Sesaji — Setiap kepala keluarga diwajibkan membawa ayam panggang dan nasi tumpeng. Sesaji lainnya termasuk pisang raja dan bunga setaman. Disiapkan juga gunungan berisi sayur-sayuran dan buah-buahan yang ditempatkan di jodhang (tandu kayu).
- Kirab Sesaji — Arak-arakan sepanjang ±500 meter menuju kawasan wisata Air Terjun Girimanik, dipimpin langsung Kepala Desa Setren. Iring-iringan ratusan warga membawa ayam panggang menjadi pemandangan yang ikonik—sering disebut sebagai "sungai ayam panggang".
- Penyerahan Sesaji — Sesampai di lokasi upacara, sesaji diserahkan Kepala Desa kepada Camat Slogohimo, lalu ditata di bawah tenda yang disiapkan.
- Sambutan & Doa — Sambutan Ketua Panitia, dilanjutkan sambutan Bupati Wonogiri (bila hadir), lalu pembacaan doa dan ikrar oleh juru kunci (modin Desa Setren).
- Pentas Kesenian — Setelah ritual inti, dilanjutkan pentas seni budaya: wayang kulit, jathilan, reog, dan tari tradisional.
- Pembagian Berkat — Ayam panggang dan tumpeng didoakan bersama lalu dibagikan kepada warga sebagai simbol keberkahan kolektif.
Perlengkapan Upacara
Beberapa perangkat khas yang wajib ada:
- Encek — nampan dari batang pisang dan bilah bambu untuk menampung sesaji.
- Jodhang — tandu kayu untuk membawa gunungan hasil bumi.
- Ayam panggang utuh dari setiap kepala keluarga.
- Tumpeng nasi dengan lauk lengkap.
- Pisang raja & bunga setaman sebagai pelengkap spiritual.
Nilai Filosofis
Susuk Wangan menyimpan empat nilai utama:
- Religius (manusia-Tuhan) — ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah air dan tanah subur.
- Solidaritas Sosial (manusia-manusia) — gotong royong tanpa memandang kelompok atau wilayah.
- Pelestarian Lingkungan (manusia-alam) — secara konkret membersihkan dan menjaga sumber air.
- Pendidikan Karakter — ajaran moral yang disampaikan nonverbal kepada generasi muda.
Atraksi Wisata Budaya
Sejak Pemkab Wonogiri mengembangkan kawasan Air Terjun Girimanik sebagai destinasi wisata pada tahun 2000-an, Susuk Wangan juga dipromosikan sebagai atraksi wisata budaya tahunan. Wisatawan dari luar Wonogiri kerap datang untuk menyaksikan kirab sesaji dan pentas seni—menjadikan tradisi ini bukan hanya milik Setren, tetapi juga "milik" pariwisata Wonogiri.
Penelitian akademik dari UNS, UNNES, dan beberapa kampus lain telah mengangkat Susuk Wangan sebagai studi kasus kearifan lokal yang relevan dengan agenda pelestarian lingkungan modern. Tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan leluhur Jawa sudah lama mengajarkan keseimbangan manusia-Tuhan-alam (Tri Hita Karana versi Jawa) jauh sebelum istilah sustainability dikenal dunia.