Reog Wonogiren adalah salah satu seni pertunjukan rakyat paling khas di Kabupaten Wonogiri timur. Meski Reog secara umum berasal dari Kabupaten Ponorogo (Jawa Timur), Wonogiri sebagai daerah serumpun di perbatasan Jawa Tengah–Jawa Timur turut memiliki tradisi Reog yang berkembang dengan ciri khas sendiri.
Konteks Geografis
Kecamatan Wonogiri timur (Girimarto, Slogohimo, Bulukerto, Purwantoro, Puhpelem) berbatasan langsung dengan Ponorogo. Wilayah ini secara budaya merupakan zona transisi antara budaya Jawa Mataraman (Surakarta) dan budaya Jawa Wetan (Madiun-Ponorogo). Tidak mengherankan bila kesenian Reog—yang menjadi ikon Ponorogo—juga mengakar kuat di sini.
Pusat Pelestarian: Desa Jendi, Girimarto
Salah satu pusat aktif pelestarian Reog Wonogiren adalah Desa Jendi, Kecamatan Girimarto. Pada acara Media Tradisional DPRD Provinsi Jawa Tengah (20 November 2022), kelompok Reog Wonogiri tampil di Desa Jendi dengan ciri khas "sangar"—penampilan yang lebih garang dan magis dibanding versi standar.
Selain Girimarto, kelompok Reog aktif juga ditemukan di:
- Kecamatan Wonogiri Kota (resmi tercatat dalam potensi budaya Kecamatan Wonogiri)
- Kecamatan Slogohimo (sering tampil di acara Susuk Wangan)
- Kecamatan Selogiri (untuk acara Rasulan Desa Keloran)
- Kecamatan Bulukerto, Puhpelem, Purwantoro (wilayah perbatasan Ponorogo)
Elemen Utama Pertunjukan
Reog Wonogiren menampilkan beberapa elemen klasik Reog yang sudah dimodifikasi sesuai konteks Wonogiri:
- Dadak Merak / Singo Barong — topeng utama berupa kepala harimau (singo) dengan mahkota merak besar. Bobotnya bisa mencapai 50+ kilogram dan ditopang dengan gigi penari (warok). Inilah elemen yang membuat Reog terkenal di dunia.
- Warok — penari pria dewasa yang memerankan tokoh sakti. Di Wonogiri, warok dikenal sebagai sosok yang memiliki aji-aji (ilmu spiritual) dan menjadi tokoh dihormati di komunitas.
- Jathil / Jathilan — penari berkuda lumping (kuda dari anyaman bambu). Umumnya dimainkan penari pria muda atau remaja.
- Bujangganong / Ganongan — tokoh dengan topeng merah lucu, berperan sebagai penari akrobatik yang menghibur penonton.
- Kelono Sewandono — tokoh raja muda dengan kostum mewah, perlambang kepemimpinan dan ketampanan.
- Penabuh Gamelan — gamelan khusus dengan irama dinamis dan menggebu, berbeda dari gamelan keraton yang halus.
Ciri Khas "Sangar" Wonogiri
Yang membedakan Reog Wonogiren dari Reog Ponorogo adalah kemasan "sangar" yang lebih kuat. "Sangar" dalam bahasa Jawa berarti magis, mistik, angker. Reog Wonogiren cenderung:
- Lebih menonjolkan unsur spiritual & trance dibanding hiburan murni
- Penari sering masuk ke kondisi kerasukan (ndadi)—dianggap dirasuki roh leluhur
- Aksesori dan kostum lebih sederhana namun lebih wingit
- Musik pengiring lebih repetitif dan berirama hipnotis
Fungsi Sosial
Reog Wonogiren memiliki banyak peran sosial dalam masyarakat Wonogiri:
- Hiburan rakyat di acara hajatan (pernikahan, sunatan, syukuran)
- Pengiring ritual seperti Rasulan, Susuk Wangan, Jamasan Pusaka
- Identitas komunitas bagi desa-desa di Wonogiri timur
- Media pelestarian nilai luhur (keberanian warok, kebijaksanaan raja, kelincahan jathil)
- Daya tarik wisata budaya dalam paket event resmi Pemkab
Tantangan Pelestarian
Seperti banyak kesenian tradisional lainnya, Reog Wonogiren menghadapi tantangan:
- Generasi muda kurang tertarik menjadi penari (terutama dadak merak yang fisik berat)
- Pendanaan kelompok seni yang terbatas
- Persaingan dengan hiburan modern (medsos, dangdut elektronik)
- Pelestarian aji-aji warok yang membutuhkan disiplin spiritual ketat
Untuk mengatasi tantangan ini, Pemkab Wonogiri bersama DPRD Provinsi Jateng dan kelompok seni lokal aktif menggelar dialog budaya, pelatihan, dan pentas reguler. Acara Media Tradisional 2022 di Desa Jendi adalah salah satu contoh upaya tersebut.
Reog di Forum Internasional
Dalam konteks lebih luas, Reog (termasuk varian Wonogiren) merupakan bagian dari Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia. Pemerintah Indonesia bahkan sedang mengajukan Reog sebagai warisan budaya UNESCO. Bila berhasil, Reog Wonogiren akan ikut terangkat sebagai bagian dari kekayaan budaya dunia.
Reog Wonogiren menjadi bukti bahwa budaya tidak mengenal batas administratif. Kesenian yang lahir di Ponorogo bisa berkembang menjadi varian lokal di Wonogiri timur—dengan tetap menjaga akar tradisi sekaligus memberi sentuhan khas wilayah masing-masing.