Sejarah

Monumen Bedhol Desa Pokoh Kidul: Patung Pengorbanan Wonogiri

Monumen Bedhol Desa di Pokoh Kidul, Wonogiri, mengabadikan pengorbanan 68.750 jiwa yang harus meninggalkan tanah kelahirannya demi pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Patung keluarga petani lengkap—ayah, ibu menggendong bayi, dan anak sekolah—menjadi pengingat ingatan kolektif.

Monumen Bedhol Desa Pokoh Kidul: Patung Pengorbanan Wonogiri

Di sisi kanan intake (pintu air) Waduk Gajah Mungkur, berdiri sebuah monumen yang menyimpan kisah paling menggetarkan dalam sejarah modern Wonogiri: Monumen Bedhol Desa. Monumen ini lebih dari sekadar pajangan wisata—ia adalah ingatan kolektif yang dipahat dalam batu dan logam.

Lokasi dan Deskripsi Fisik

Patung Bedhol Desa terletak di:

  • Alamat: Dusun Karangtalun, Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri
  • Plus Code: 5W7M+MF9
  • Jarak dari pusat kota Wonogiri: ±7 km

Monumen ini terdiri dari sejumlah patung dengan tinggi 2–3 meter, dicat dengan warna biru langit mencolok yang menambah daya tarik visual.

Tokoh-Tokoh Patung

Monumen menggambarkan satu keluarga petani lengkap—setiap figur memiliki makna simbolik:

  1. Patung Bapak Petani — membawa cangkul di tangan kiri dan caping di tangan kanan, seolah melambai kepada waduk untuk berpamitan dengan desa yang mereka tinggalkan. Simbol kepala keluarga yang terpaksa melepas ladang dan mata pencaharian.
  2. Patung Ibumenggendong bayi di pelukan dan mengapit sebuah kendi (wadah air) di tangan lain. Simbol kehidupan yang harus tetap berlanjut di tanah baru yang asing.
  3. Patung Anak Perempuanmelambaikan tangan dengan buku di tangan kanan dan tas selempang di kiri, mengenakan seragam sekolah. Simbol generasi penerus yang harus melanjutkan pendidikan dan memutus rantai kemiskinan, bahkan di tanah transmigrasi.

Komposisi keluarga ini—ayah, ibu, dan anak—mewakili satuan terkecil masyarakat yang harus dipindahkan. Total 68.750 jiwa adalah agregasi dari ribuan keluarga seperti ini.

Angka di Balik Monumen

Yang diabadikan monumen ini secara matematis:

  • 51 desa ditenggelamkan (sumber lain menyebut 45 desa)
  • 7 kecamatan di Wonogiri terdampak (sumber lain menyebut 6 kecamatan)
  • 12.525 Kepala Keluarga direlokasi
  • 68.750 jiwa harus pindah (angka konservatif; ada sumber menyebut 41.369)
  • ±90 km² lahan dibebaskan

Tujuan Transmigrasi

Sebagian besar warga yang direlokasi ditransmigrasikan ke Pulau Sumatera. Lokasi-lokasi tujuan:

  • Sitiung (Sumatra Barat) — kelompok terbesar
  • Jujuhan (Jambi)
  • Rimbo Bujang (Jambi)
  • Baturaja (Sumatra Selatan)
  • Bengkulu dan beberapa daerah lain di Sumatra Selatan
  • Sebagian besar lokal di sekitar Wonogiri (Pokoh Kidul sendiri menjadi tempat relokasi)

Pengelolaan dan Konservasi

Patung Bedhol Desa dibangun oleh seniman lokal dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Wonogiri. Material utama: semen dan logam—dipilih agar tahan cuaca dan tahan lama. Pengecatan ulang dilakukan secara berkala oleh Pemkab dan masyarakat setempat.

Fungsi Sebagai Tempat Ziarah Modern

Hingga kini, Monumen Bedhol Desa sering dikunjungi:

  • Wisatawan yang ingin memahami sejarah Waduk Gajah Mungkur
  • Perantau dan keturunan transmigran yang pulang ke Wonogiri untuk "mengenang masa lalu" leluhur mereka
  • Pelajar dan mahasiswa dalam program edukasi sejarah
  • Peneliti dan jurnalis yang mengangkat isu pembangunan berbasis pengorbanan rakyat

Makna Filosofis

Monumen Bedhol Desa adalah pengingat ganda:

  1. Pengorbanan — bahwa kemajuan satu wilayah kadang ditebus dengan pengorbanan wilayah lain.
  2. Daya Juang — bahwa rakyat Wonogiri mampu bangkit dari kehilangan tanah leluhur dan membangun kehidupan baru di tanah asing.

Seperti dilansir Surakarta Daily: "Memori tidak akan hilang selama masih ada yang merawatnya"—dan Patung Bedhol Desa adalah bukti hidup bahwa rakyat Wonogiri tidak melupakan akar mereka, sekaligus menerima takdir baru dengan tabah.

Monumen ini sering dijadikan tema utama berbagai pameran sejarah, termasuk pameran virtual kearsipan, sebagai cara untuk memastikan generasi muda Wonogiri—termasuk yang kini lahir di Sitiung, Jujuhan, atau Baturaja—tidak melupakan asal-usul mereka.