Sejarah

Mento Toelakan — Pabrik Serat Nanas Wonogiri

Mento Toelakan adalah kawasan bersejarah di Wonogiri yang pernah menjadi pusat perkebunan dan pabrik serat agave/serat nanas terbesar dan terbaik pada masa Hindia Belanda. Jejaknya masih tersimpan melalui arsip foto, cerita lisan, serta peninggalan fisik di wilayah Wonoharjo.

Mento Toelakan — Pabrik Serat Nanas Wonogiri

Mento Toelakan adalah salah satu jejak penting sejarah ekonomi Wonogiri pada masa kolonial. Kawasan ini dikenal sebagai lokasi perkebunan dan pabrik serat agave/serat nanas yang pada masanya disebut sebagai salah satu perusahaan serat terbesar dan terbaik di Hindia Belanda.

Nama dan Lokasi

Nama Mento Toelakan merujuk pada kawasan yang kini dikenal masyarakat sebagai Dusun Mento dan Tulakan/Toelakan di wilayah Desa Wonoharjo, Kecamatan Wonogiri. Pada masa kolonial, kawasan perkebunannya meluas ke beberapa wilayah sekitar, termasuk Wonogiri, Sukoharjo, dan Karanganyar, tetapi pusat aktivitas pabrik berada di Mento Toelakan, Wonogiri.

Perusahaan Perkebunan Kolonial

Perusahaan ini dikenal dengan nama Cultuur Maatschappij Mento Toelakan atau Onderneming Mento Toelakan. Dalam bahasa Indonesia dapat dipahami sebagai Perusahaan Perkebunan Mento Toelakan. Sejumlah catatan menyebut perusahaan ini berdiri pada akhir abad ke-19 dan berkembang pesat pada awal abad ke-20.

Tanah di kawasan Wonogiri bagian utara dinilai cocok untuk tanaman serat karena kondisinya relatif kering dan tidak terlalu subur untuk komoditas tertentu. Dari kondisi alam inilah Mento Toelakan justru berkembang sebagai kawasan perkebunan agave dan pusat pengolahan serat alam.

Serat Agave, Konas, Rami, dan Yute Jawa

Komoditas yang paling dikenal dari Mento Toelakan adalah serat agave, yang dalam beberapa cerita lokal sering disebut sebagai serat nanas atau konas. Selain itu, kawasan ini juga pernah dikaitkan dengan tanaman rami, yute Jawa, kapas, dan kapuk.

Serat yang dihasilkan dikenal kuat dan bernilai ekonomi tinggi. Produk serat dari Mento Toelakan dipakai untuk berbagai kebutuhan seperti tali-temali kapal, tambang kapal, karung goni, benang, tas jaring, tempat tidur gantung, kabel, tikar, dan kebutuhan industri lainnya.

Pusat Ekonomi dan Teknologi Lokal

Pada masa kejayaannya, Mento Toelakan bukan hanya menjadi kebun dan pabrik, tetapi juga pusat kegiatan ekonomi. Keberadaan pabrik mendorong munculnya pasar, permukiman, jalur angkut, dan aktivitas perdagangan. Cerita masyarakat menyebut bahwa ketika wilayah Wonogiri Kota belum menikmati listrik secara luas, kawasan Mento Toelakan sudah mengenal listrik dan telepon untuk mendukung aktivitas perusahaan.

Di kawasan ini juga terdapat jaringan pengangkutan seperti lori, gerobak, saluran air, kolam perendaman, gudang sortir, hingga tempat pengeringan serat. Arsip foto lama yang tersimpan di koleksi Leiden memperlihatkan proses penanaman agave, pemotongan daun, pengangkutan, pengeringan, penyortiran, dan pengepresan serat.

Kunjungan dan Keterkaitan Keraton

Sejumlah kisah lokal menyebut adanya keterkaitan tanah perkebunan dengan wilayah Kasunanan dan Mangkunegaran. Tokoh keraton seperti Pakubuwono X dan pihak Mangkunegaran juga disebut pernah berkaitan dengan kawasan ini melalui kerja sama sewa tanah maupun kunjungan ke wilayah perkebunan.

Kemunduran Setelah Masa Kolonial

Perusahaan serat Mento Toelakan mulai mengalami kemunduran ketika kekuasaan kolonial Belanda berakhir dan masa pendudukan Jepang mengubah arah pemanfaatan lahan. Setelah Indonesia merdeka, sebagian lahan berubah fungsi menjadi tanah garapan masyarakat, sawah, permukiman, dan fasilitas umum. Pengetahuan pengolahan serat sempat bertahan melalui pabrik-pabrik kecil milik warga, tetapi secara perlahan tradisi industri ini juga surut.

Jejak yang Masih Dapat Dikenali

Jejak Mento Toelakan masih dapat dikenali melalui beberapa peninggalan fisik dan ingatan masyarakat, antara lain bekas fondasi, saluran air, kolam perendaman, jembatan, area bekas pabrik, serta cerita keluarga para pekerja yang pernah terlibat di perusahaan tersebut. Sebagian lokasi lama kini telah berubah menjadi lapangan, sekolah, permukiman, dan ruang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Makna bagi Wonogiri

Kisah Mento Toelakan memperlihatkan bahwa Wonogiri bukan hanya memiliki sejarah perjuangan dan budaya, tetapi juga sejarah industri, perkebunan, teknologi, dan ekonomi global. Walaupun lahir dalam konteks kolonialisme, jejak ini penting dicatat sebagai bagian dari memori kolektif Wonogiri: tentang perubahan lanskap desa, kerja masyarakat, komoditas dunia, dan warisan sejarah yang masih dapat ditelusuri melalui arsip maupun cerita warga.

Hari ini, Mento Toelakan dapat dipandang sebagai ruang sejarah yang layak terus didokumentasikan. Foto lama, arsip keluarga, cerita lisan, dan sisa bangunan di lapangan dapat menjadi bahan penting untuk memperkaya pengetahuan generasi muda tentang perjalanan Wonogiri dari masa ke masa.