Desa Sendang berada di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, diapit oleh Kecamatan Wuryantoro di selatan dan perairan Waduk Gajah Mungkur di timur. Desa seluas sekitar 200 hektar ini menyimpan cerita asal-usul yang berakar ke periode keruntuhan Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-15.
Asal-Usul: Diaspora Majapahit
Menurut penuturan tokoh masyarakat sekaligus mantan Kepala Desa Sendang, H. Mino, Bc.Hk., Desa Sendang pada awalnya dihuni oleh para pelarian Kerajaan Majapahit pada masa keruntuhannya. Para pelarian itu menghindari kekuasaan Kesultanan Demak yang telah menaklukkan kerajaan beribu kota di Trowulan tersebut.
Penyebab utama pelarian bukan semata-mata politik, tetapi juga perbedaan keyakinan. Kerajaan Demak yang Islam memiliki keyakinan berbeda dengan tradisi Majapahit kala itu. Daripada tunduk pada otoritas baru, sebagian penduduk Majapahit memilih menyelamatkan diri ke berbagai penjuru—dan sebagian di antaranya tiba di lereng pegunungan selatan Jawa, termasuk wilayah yang kini disebut Sendang.
Transformasi Pemerintahan
Sejak masa itu hingga era kemerdekaan, struktur pemerintahan di Sendang berupa kademangan (sebutan kepala wilayah pada masa lama), yang kemudian berubah menjadi sistem kepala desa setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Desa ini juga menjadi bagian dari wilayah Praja Mangkunegaran sejak Perjanjian Salatiga 1757.
Daftar 10 Kademangan/Kepala Desa terakhir yang dapat ditelusuri: Noyo Sukarto (1945–1958), Kartono (1958–1974), Mino, Bc.Hk (1974–1994), Samsul Budiman (1994–1995), S. Djono (1995–1998), Murdoto (1998–1999), Sukirno (1999–2002), Sriyatni (2002–2012), Budi Hardono (2012–2018), dan Sukamto Priyowiyoto, S.H. (2018–sekarang).
Secara astronomis, Desa Sendang terletak di koordinat sekitar 110.8924° BT dan 7.84553° LS, dengan ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Lanskap berbukit ini cocok dengan strategi para pelarian Majapahit yang mencari tempat tersembunyi dan defensif.