Selain Kethek Ogleng, seni pedalangan wayang kulit purwo adalah salah satu kebudayaan Jawa yang masih hidup dengan kuat di Kabupaten Wonogiri. Pertunjukan wayang menjadi sarana hiburan, ritual, sekaligus media penyampaian nilai-nilai moral dan filosofis.
Ragam Seni Pedalangan
Di Wonogiri, beberapa varian pedalangan masih lestari:
- Wayang Kulit Purwo — wayang klasik dengan cerita Mahabharata dan Ramayana
- Wayang Orang — sandiwara dengan pemain manusia, gerakan & dialog gaya wayang
- Wayang Klithik / Krucil — wayang kayu pipih, cerita Damarwulan
Bekraf & Kantong-Kantong Tradisi
Beberapa kecamatan di Wonogiri menjadi kantong tradisi pedalangan yang aktif:
- Tirtomoyo — kerajinan wayang kulit + pertunjukan
- Eromoko — kerajinan topeng di Desa Ngandong
- Jatisrono, Slogohimo — pertunjukan rutin
Dalang Wonogiri
Wonogiri memiliki sejumlah dalang lokal yang aktif pentas di acara hajatan, ruwatan, dan upacara desa. Pertunjukan biasanya semalam suntuk dari pukul 21.00 hingga subuh, diiringi gamelan lengkap dengan sinden dan wiyaga.
Nilai dalam Wayang
Bagi masyarakat Wonogiri, wayang lebih dari sekadar hiburan — ia adalah sarana penyampaian nilai moral seperti:
- Memayu Hayuning Bawono — memperindah dunia
- Sangkan Paraning Dumadi — asal-usul manusia
- Manunggaling Kawulo Gusti — bersatunya hamba dan Tuhan