Bengawan Solo adalah sungai terpanjang dan terbesar di Pulau Jawa. Mengalirkan air dari Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas ±16.100 km², sungai ini membentang sepanjang 548–600 km—dari hulu di Wonogiri hingga muara di Gresik, Jawa Timur. Nama Bengawan Solo diabadikan oleh maestro keroncong Gesang Martohartono (Solo) dalam lagu legendaris yang dikenal hingga Jepang dan Eropa.
Dua Hulu di Wonogiri dan Ponorogo
Bengawan Solo memiliki dua hulu utama:
- Hulu Wonogiri — bermata air dari kawasan Pegunungan Sewu (karst) di selatan Wonogiri. Air dari celah-celah batu gamping yang terbentuk selama jutaan tahun mengalir ke permukaan dan bergabung membentuk aliran awal Bengawan Solo.
- Hulu Ponorogo — dari pegunungan sisi Jawa Timur yang kemudian bergabung di wilayah tengah.
Zona Hulu: Di Atas Waduk Gajah Mungkur
Zona hulu Bengawan Solo dimulai dari daerah di atas Waduk Gajah Mungkur (WGM). Beberapa anak sungai penting yang membentuk Bengawan Solo di Wonogiri:
- Kali Keduang — anak sungai terbesar dari Wonogiri timur (Jatiroto, Jatisrono)
- Kali Wiroko — dari wilayah Wonogiri timur-selatan (Tirtomoyo, Baturetno)
- Kali Tenggar & Kali Muning — dari Wonogiri selatan
- Kali Temon — dari kawasan Eromoko-Pracimantoro
Seluruh anak sungai ini bertemu di Waduk Gajah Mungkur—yang berfungsi mengatur debit sebelum air mengalir ke hilir menuju Solo.
Peran Wonogiri untuk Jutaan Jiwa
Bengawan Solo mengaliri wilayah 16 kabupaten/kota: Ponorogo, Wonogiri, Karanganyar, Boyolali, Sragen, Klaten, Sukoharjo, Solo, Ngawi, Madiun, Magetan, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik. Artinya, air yang bermula dari Pegunungan Sewu Wonogiri akhirnya menghidupi jutaan manusia di sepanjang Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bengawan Solo Purba: Ketika Aliran Menuju Selatan
Empat juta tahun lalu, aliran yang kini bernama Bengawan Solo justru mengalir ke selatan—bermuara di Samudera Hindia. Akibat pengangkatan geologis dari desakan Lempeng Indo-Australia yang mendesak daratan Jawa ke atas, aliran sungai ini beralih ke utara. Jejak aliran purba ini bisa dilihat di:
- Lembah Giritontro — lembah dalam yang dipotong Pegunungan Selatan, bekas jalur sungai purba
- Pantai Sadeng (DIY) — muara Bengawan Solo Purba
- Kawasan Pracimantoro — fosil kayu dan batuan vulkanik besar ditemukan di sepanjang bekas jalur
Lagu Bengawan Solo dan Wonogiri
Lagu "Bengawan Solo" ciptaan Gesang (1940) menjadi salah satu lagu Indonesia paling terkenal di dunia—diterjemahkan ke 13 bahasa termasuk Jepang. Ketika orang mendengar "Bengawan Solo mengalir dari hulu...", asal hulunya adalah kawasan karst Pegunungan Sewu di selatan Wonogiri—sebuah fakta geografis yang jarang disadari pendengar lagu tersebut.
Tantangan Kini
Bengawan Solo menghadapi dua masalah klasik yang telah berlangsung ratusan tahun:
- Banjir musim hujan — pernah menenggelamkan Solo hingga 2 meter
- Kekeringan musim kemarau — debit menurun drastis
Waduk Gajah Mungkur dibangun justru untuk mengatasi kedua masalah ini sekaligus—menyimpan air di musim hujan dan melepaskannya secara terkontrol di musim kemarau. Sejak WGM beroperasi (1981), frekuensi banjir besar Solo menurun signifikan.