BERITA

Yatiman Yusof Kunjungi Disarpus Wonogiri, Telusuri Jejak Transmigrasi Masyarakat Terdampak Waduk Gajah Mungkur

Kamis, 13 Agustus 2026 118 dibaca

Pada Kamis, 13 Agustus 2026, Disarpus Kabupaten Wonogiri menerima kunjungan Yatiman Yusof, mantan politikus, jurnalis, diplomat, dan penyair asal Singapura, bersama istri dan pendamping dari Yogyakarta, Enda, untuk menelusuri arsip dan informasi tentang transmigrasi masyarakat Wonogiri akibat pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Kunjungan tersebut menjadi momentum penting dalam menggali kembali sejarah bedhol desa serta jejak kehidupan masyarakat Wonogiri yang berpindah ke berbagai daerah transmigrasi.

Wonogiri— Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Wonogiri menerima kunjungan istimewa dari Yatiman Yusof, mantan politikus, jurnalis, diplomat, dan penyair asal Singapura, bersama istri serta pendamping dari Yogyakarta, Enda, pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka menelusuri informasi dan dokumentasi sejarah mengenai transmigrasi masyarakat Wonogiri sebagai dampak pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Rombongan Yatiman Yusof diterima langsung oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri, Mawan Tri Hananto, S.STP., M.Si.; Sekretaris Dinas, Sigit Prasetyo, S.Psi., M.Si.; serta Kepala Bidang Kearsipan, Neni Setyawati, S.E., M.M.

Yatiman Yusof merupakan tokoh publik Singapura yang memiliki perjalanan panjang di bidang jurnalistik, politik, diplomasi, dan kesusastraan. National Library Board (NLB) Singapura mencatat bahwa ia pernah menjadi jurnalis dan editor Berita Harian dan Berita Minggu pada 1979–1982. Ia kemudian menjadi Anggota Parlemen dari People's Action Party (PAP) untuk Kampong Kembangan dan selanjutnya Tampines GRC. Dalam pemerintahan Singapura, Yatiman juga pernah menjabat Parliamentary Secretary dan Senior Parliamentary Secretary di bidang luar negeri serta informasi dan seni.

Kunjungan ke Wonogiri memiliki kaitan erat dengan salah satu episode penting dalam sejarah pembangunan Indonesia, khususnya pembangunan Waduk Serbaguna Gajah Mungkur. Waduk tersebut dibangun pada era Pelita II dan mulai dikonstruksi pada pertengahan 1970-an hingga selesai pada 1981. Waduk kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 17 November 1981.

Pembangunan waduk membawa perubahan besar bagi masyarakat Wonogiri. Sebagian masyarakat kemudian mengikuti program transmigrasi dan ditempatkan di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, antara lain Sitiung di Sumatera Barat serta beberapa kawasan di Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Peristiwa perpindahan besar-besaran tersebut kemudian dikenal luas sebagai bedhol desa.

Bagi Disarpus Wonogiri, jejak perpindahan masyarakat tersebut merupakan bagian penting dari memori kolektif daerah yang perlu terus dirawat. Arsip Pembangunan Waduk Gajah Mungkur menjadi sumber penting untuk memahami bagaimana pembangunan infrastruktur berskala besar membawa perubahan sosial dan demografis bagi masyarakat Wonogiri.

Dalam kunjungannya, Yatiman Yusof menggali berbagai informasi mengenai proses perpindahan masyarakat, lokasi tujuan transmigrasi, kondisi sosial masyarakat sebelum dan sesudah perpindahan, serta dokumentasi yang dapat memberikan gambaran mengenai pengalaman masyarakat Wonogiri yang harus meninggalkan kampung halaman akibat pembangunan waduk.

Kunjungan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya arsip sebagai sumber pengetahuan lintas generasi dan lintas negara. Bagi masyarakat keturunan transmigran Wonogiri yang kini tersebar di berbagai wilayah Indonesia, arsip tidak sekadar menjadi catatan administratif, tetapi juga menjadi penghubung dengan sejarah, identitas, dan tanah asal leluhur mereka.

Disarpus Kabupaten Wonogiri sendiri memiliki tugas dalam pengelolaan, pelestarian, dan pelayanan informasi kearsipan, termasuk pengelolaan arsip statis sebagai bagian dari memori kolektif daerah.

Kunjungan Yatiman Yusof diharapkan semakin memperkuat pemanfaatan arsip sejarah Wonogiri, khususnya arsip mengenai pembangunan Waduk Gajah Mungkur dan perjalanan masyarakat terdampak. Melalui penelusuran arsip dan pertukaran informasi tersebut, sejarah bedhol desa dan transmigrasi masyarakat Wonogiri dapat terus dikaji, didokumentasikan, dan dikenalkan kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk generasi keturunan warga Wonogiri yang kini tinggal di berbagai daerah.

Bagi Wonogiri, kisah Waduk Gajah Mungkur bukan hanya cerita tentang keberhasilan pembangunan sebuah infrastruktur besar, tetapi juga cerita tentang masyarakat yang memberikan pengorbanan, meninggalkan tanah kelahiran, dan membangun kehidupan baru di tempat yang jauh dari kampung halaman.

DOKUMENTASI KEGIATAN

Galeri Foto

Klik foto untuk melihat ukuran penuh.

Keterangan Foto

Yatiman Yusof Kunjungi Disarpus Wonogiri, Telusuri Jejak Transmigrasi Masyarakat Terdampak Waduk Gajah Mungkur

1 / 5